Festival Al Banjari juga Diisi Dengan Kegiatan UMKM Warga Kota Kediri
Polresta Kediri – Kapolresta Kediri AKBP Anthon Haryadi, S.IK, M.H menghadiri Festival Sholawat Al Banjari Se-Jatim di Mushola Nur Hidayah Jalan Panglima Polim Kota kediri. Kegiatan berlangsung cukup meriah dan dibuka oleh KH MD Thoha Yahya atau biasa disapa Gus Lik, Jamsaren.
Selain Kapolresta Kediri, hadir pula - Kapolsek Kota Kediri Kompol Sucipto, S. Pd , Kepala Kemenag Kota Kediri Drs. H. Muhammad Zuhri . Ketua PCNU Kota Kediri KH Abu Bakar Abdul Djalil / Gus Ab - KH MD. Thoha Yahya / Gus Lik. Rois Syuriah PCNU Kota Kediri KH Abdul Hamid Abdul Qodir , Direksi PT. GG Tbk diwakili oleh Ihwan Tri Cahyono.
“Acara berlangsung meriah dan dihadiri jajaran Forpimda Kota Kediri serta sejumlah ulama. Untuk pembukaan dibuka langsung oleh Gus Lik .Selain itu juga diisi dengan kegiatan UMKM warga Kota Kediri,” kata AKP Kamsudi, Kasubag Humas Polresta Kediri, Minggu (28/1)
Banjari adalah julukan dari seni musik rebana , yang di mainkan minimal oleh dua orang . Menggunakan teknik memukul rabban dengan tangan , dan menghasilkan irama yang nyaman untuk di nikmati bersama alunan Sholawat Nabi .
Dalam versi ini, yang disebut sebagai perintis Banjai adalah seorang keturunan Arab Habib Abu Bakar bin Idrus Al-Habsyi yang akrab disapa Yik Bakar. Ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang menggemari kesenian Islam. Melalui kesenian, solidaritas umat Islam mudah disatukan Disela-sela latihan kesenian inilah,Yik Bakar memberikan nasehat-nasehat keagamaan.
Dari situ,masyarakat semakin intens berlatih kesenian Hadrah ini. Hadrah ini memiliki banyak pengikut. Dahulu Hadrah tersebut belum dikenal dengan sebutan al-Banjari, akan tetapi Majruran (majelis yang berjajar atau “sekumpulan yang berbaris-baris”). Kegiatan kesenian ini kemudian menular ke daerah lainnya.
Apalagi tatkala Yik Bakar memutuskan berpindah ke Manyar, Gresik. Sejak berpindah ke Gresik, Yik Bakar semakin bersemangat mengembangkan Hadrah ini. Dan, ketika ada sebuah kesenian jenis baru bernama majruran, beberapa kelompok umat Islam merasa lega dan memberikan waktu khusus untuk mempelajari dan mengembangkan kesenian ini. Majruran semakin berkembang,
Selain Yik Bakar, terdapat nama lain tidak tak bias dilepaskan dari sejarah Hadrah al-Banjari. Haji Basyuni, beliau ialah salah satu nama perintis Hadrah bersama Yik Bakar. Berasal dari Banjarmasin, pria ini tinggal di Tulungagung dengan berdagang. Duet Yik Bakar dan Haji Basyuni inilah yang membuat kesenian Hadrah mampu bertahan di awal perintisannya hingga saat ini.
Di versi lain yaitu ada yang mengatakan bahwasannya al banjari itu disebarkan oleh Ustadz Chumaidi Abdul Majid yang berasal dari dari Tapaan Pasuruan, sedangkan kedua bernama Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang lebih dikenal dengan nama Guru Zaini dari Martapura Banjarmasin. Keduanya belajar menuntut ilmu kepada Kiai Syarwani di Pondok Pesantren Datuk Kalampayan Bangil.
Setelah lulus dari pesantren tersebut, baik Ustadz Chumaidi maupun Guru Zainiberdakwah di masyarakat. Di antara metode dakwahnya adalah dengan menggunakan media musik Hadrah al-Banjari sebagai daya pikat bagi masyarakat.
Ustadz Chumaidi menyebarkannya di kawasan Bangil, Pasuruan, Probolinggo, dan daerah di Jawa Timur, sedangkan Guru Zaini menyebarkan kesenian ini di daerah asalnya, yaitu Martapura Banjarmasin. (res|aro) | Dari berbagai sumber.
Berita yang direkomendasi
-
Kolaborasi Gerakan Literasi Melalui Pustaka Bebas Bea
Mojokerto-Penggagas Gerakan Katakan dengan Buku (GKdb) John Lobo Selas..
-
Buku untuk Tulang Bawang
Tulang Bawang.Lampung-Taman baca Ceria (Cerdas dan Gembira) yang terle..
-
Geliat Literasi dari Lekosoro
Bajawa.Flores- Pegiat literasi sekaligus pengelola taman baca Ratu Dam..
-
Tips Sukses Public Speaking Dari Divisi Humas Polri
Jakarta - Komunikasi publik atau public speaking adalah..



